Ada masa dalam hidup, ketika saya merasa hampir kehilangan semua ruang untuk bercerita.
Saat itu, saya tidak sedang mencari jalan keluar.
Saya hanya ingin belajar istiqamah membaca Al-Qur’an, dan karena itulah saya bergabung dengan ODOJ. Belasan tahun kemudian, barulah saya menyadari bahwa Allah ternyata memberi hadiah yang sama sekali tidak pernah saya minta.
Hidup dalam Tekanan
Tahun 2009 menjadi awal kehidupan baru bagi saya. Saya diterima bekerja di sebuah lembaga antirasuah. Saya ditempatkan di sebuah unit yang bahkan belum benar-benar saya pahami pekerjaannya. Saya melamar di unit tersebut karena pengalaman kerja yang saya miliki memang dibutuhkan di sana.
Namun, setelah mulai bekerja, saya baru menyadari bahwa kode etik di unit itu berlawanan dengan kebiasaan hidup saya. Saya seorang ekstrover, sementara pekerjaan ini menuntut saya hidup layaknya seorang introver. Ditempat kerja sebelumnya, sepulang kerja saya masih bisa berkumpul dengan teman-teman jurnalis atau teman-teman aktivis. Kini, saya tidak lagi bebas nongkrong atau sekadar berbincang santai.
Pekerjaan itu menuntut saya menjauh dari dunia sosial, baik di dunia nyata maupun di dunia maya—Medsos. Bahkan tempat saya bekerja pun harus dirahasiakan. Hanya keluarga dekat dan beberapa sahabat yang boleh mengetahuinya. Sampai-sampai, tetangga saya sendiri tidak tahu saya bekerja di lembaga tersebut hingga belasan tahun kemudian.
Saat Putus Asa
Tiga tahun bekerja, gastritis—atau yang lebih dikenal masyarakat sebagai gangguan asam lambung—mulai menjadi teman yang kerap datang tanpa di undang. Hampir setiap bulan, ada hari, dimana saya harus diinfus karena mual dan muntah-muntah saat bekerja.
Saking langganannya penyakit tersebut datang, sampai-sampai saya terbiasa setelah muntah belasan kali, lalu diinfus ke rumah sakit terdekat, selanjutnya saya balik kerja lagi.
Hampir setiap tahun, hasil medical check-up saya selalu membawa catatan yang sama:
Gastritis.
Penyebabnya pun klasik, telat makan dan stres.
Lama-kelamaan, saya menerima diagnosis itu sebagai sesuatu yang biasa.
Yang membuat saya penasaran, mengapa teman-teman yang menghadapi tekanan pekerjaan yang sama, tidak mudah mengalami gastritis seperti saya?
Titik Balik
Rasa penasaran itu mendorong saya mengadakan sebuah sharing session bertema self-awareness untuk kami di satu unit itu. Dalam sesi tersebut, kami mengikuti tes temperamen untuk mengenali karakter masing-masing. Hasilnya cukup mengejutkan. Mayoritas teman-teman saya berkepribadian introver, sebagian kecil ambiver, dan hanya saya sendirian yang benar-benar ekstrover.
Barulah saya tersenyum tersadar, mengangguk-anggukan kepala:
“Pantas saja, ketika saya uring-uringan karena tekanan pekerjaan, mereka tampak baik-baik saja. Hahaha.”
Suatu hari, saya membeli buku Membaca Kilat karya Agus Setiawan. Waktu itu sedang launching di Radio Smart FM. Bonusnya sebuah seminar.
Saya datang dengan harapan bisa belajar membaca satu halaman dalam waktu satu detik sesuai promosinya.
Saat seminar berlangsung, saya sudah lupa sebagian besar materi yang disampaikan. Namun ada satu hal yang masih saya ingat. Pak Agus Setiawan menulis di papan tulis bahwa perempuan konon membutuhkan sekitar 50 ribu kata untuk diungkapkan setiap hari—dua kali lebih banyak daripada laki-laki. Beliau menjelaskan bahwa salah satu dampaknya, banyak perempuan merasa lega ketika memiliki ruang untuk bercerita.
Terlepas dari benar atau tidaknya angka tersebut secara ilmiah, kalimat itu terus terngiang di kepala saya.
“Jangan-jangan selama ini saya stres karena tidak punya ruang untuk mengeluarkan semua kata-kata itu.”
Ketika kebutuhan berkata-kata itu tersumbat, efeknya bukan hanya pikiran saya yang protes, tetapi juga tubuh saya, dengan memunculkan reaksi stres.
Lantas saya bertanya pada diri sendiri: Kalau saya butuh “berkata-kata”, memangnya mau kemana saya menyampaikannya?
Di kantor saya tak bisa banyak mengobrol.
Sepulang kerja tak bisa nongkrong.
Media sosial pun dilarang.
Lalu… saya harus bercerita kepada siapa?
Resolusi yang Menemukan Jalannya
Sebenarnya sejak kuliah, saya sudah memiliki kebiasaan membuat resolusi tahunan. Pada awal tahun 2013 saya menuliskan sebuah keinginan sederhana.
“Ingin bisa membaca Al-Qur’an dan Tahajjud setiap hari”.
Saat itu, saya belum tahu bagaimana caranya agar bisa memulai dan istiqamah. Tapi seperti kata para motivator, “Yang penting tulis saja dulu, nanti juga ketemu jalannya.”
Pucuk dicinta ulampun tiba. Benar saja, jalan itupun terbuka.Rupanya diseberang sana, Beberapa pemuda sedang merintis komunitas One Day One Juz (ODOJ). Dan disini, saya sedang mencari wadah untuk bisa istiqomah mengaji setiap hari.
November 2013, mereka soft launching Komunitas ODOJ. Dua bulan setelah komunitas itu berdiri, tepatnya Januari 2014, saya bergabung di Grup ODOJ2307. Kata Mas Sabrang MDP, “Perjalanan Spiritual seseorang itu berbeda-beda dan sangat private antara dia dengan Tuhannya.” Semoga bertemunya saya dengan ODOJ Adalah salah satu perjalanan spiritual itu hehe.
Selusin Tahun Bersama ODOJ
Hari demi hari saya membaca satu juz.
Besoknya satu juz lagi.
Lusa begitu lagi dan seterusnya.
Membaca Al-quran 1 hari 1 juz telah menjadi kebiasaan. Sampai saya lupa, kapan kebiasaan itu berubah menjadi kebutuhan.
Mungkin orang lain tidak melihat perubahan apa pun pada diri saya.
Tetapi tubuh saya tahu.
Lambung saya tahu.
Sejenak Kembali pada ingatan oleh-oleh yang saya dapat dari seminar Membaca Kilat. Memang, saya tidak bisa langsung berhasil membaca 1 halaman dalam 1 detik. Tapi saat itu, saya pulang membawa jawaban atas penyakit yang sudah tiga tahun saya cari penyebabnya. Informasi bahwa, perempuan butuh mengeluarkan 50 ribu kata/hari.
Setelah bergabung dengan komunitas ODOJ, saya merasa, sebelum hari dimulai, saya sudah “mengeluarkan” ribuan kata itu.
Tapi bedanya, yang saya keluarkan bukan kata-kata saya sendiri.
Melainkan, bacaan ayat Al-Qur’an
Bonus yang Tak Pernah Saya Cari

Dulu, berdiri lama dalam antrean atau berdesakan di kereta terasa melelahkan. Kini justru sebaliknya. Waktu-waktu yang dulu terasa membosankan berubah menjadi kesempatan menyenangkan untuk mencicil juz hari itu. Bepergian sendirian pun tidak lagi terasa sepi. Bahkan tanpa internet sekalipun, saya tetap merasa memiliki teman perjalanan.
Saat cemas atau kebingungan datang, saya juga sering kembali kepada Al-Qur’an. Selain beristikharah, saya membacanya sambil memohon petunjuk kepada Allah. Tak jarang, dari ayat yang saya baca beserta maknanya, saya menemukan ketenangan, sudut pandang baru, atau jawaban yang sedang saya butuhkan.
Belakangan saya baru menyadari, hadiah terbesar itu ternyata bukan hanya gastritis yang perlahan tak lagi datang. Al-Qur’an juga mengubah waktu-waktu yang dulu terasa kosong menjadi saat-saat yang paling saya nantikan.
Karena di dalam kesunyian, saya tidak pernah benar-benar sendirian.
Ayat-Ayat yang Tak Lagi Asing
Manfaat lain yang baru saya rasakan beberapa tahun kemudian adalah ketika mengikuti Maiyahan. Mbah Nun (Emha Ainun Nadjib) hampir selalu mengaitkan berbagai persoalan kehidupan dengan ayat-ayat Al-Qur’an. Dulu, setiap kali beliau mengutip ayat, saya rajin mencatatnya. Namun, tidak lama kemudian catatan itu hanya menjadi catatan. Saya sering lupa, bahkan merasa ayat-ayat tersebut begitu asing.
Keadaannya mulai berubah setelah saya terbiasa membaca Al-Qur’an setiap hari, sesekali disertai membaca artinya. Perlahan, ayat-ayat yang dulu terasa asing menjadi semakin akrab. Ada kebahagiaan kecil ketika Mbah Nun mengutip sebuah ayat, lalu saya spontan teringat suratnya atau kisah yang melatarinya—seperti bertemu kembali dengan teman lama.
Mbah Nun juga sering mengingatkan agar anak-cucu Maiyah tidak berhenti pada membaca Al-Qur’an, tetapi juga mentadabburinya, sebagaimana isyarat Allah dalam Surah An-Nisa ayat 82 dan Surah Muhammad ayat 24: “Afalā yatadabbarūnal-Qur’ān…” Menurut beliau, menafsirkan Al-Qur’an memerlukan bekal ilmu yang mendalam, sedangkan mentadabburi dapat dimulai oleh siapa saja dengan niat baik dan hati yang terbuka.
Pak Syaiful dari Maiyah Padhang mbulan pernah menuliskan: Tadabbur adalah praktik yang menghubungkan pesan universal Al-Quran dengan kehidupan kita sehari-hari. Kita merenungkan makna ayat-ayat secara personal, menemukan relevansi pesan-pesannya, dan menerapkannya dalam konteks kehidupan sehari-hari.
Menjaga Persahabatan
Seiring berjalannya waktu, satu per satu teman seperjalanan memilih berhenti dari ODOJ. Kini, anggota lama yang masih bertahan di grup kami tinggal saya dan Bu Eri, seorang dosen di salah satu kampus di Yogyakarta. Saya memahami bahwa setiap orang memiliki perjalanan spiritualnya masing-masing.
Lalu mengapa saya tetap bertahan?
Jawabannya sederhana: karena saya menyadari, saya bukan orang yang mudah istiqamah. Justru karena saya gampang malas, saya membutuhkan teman-teman yang setiap hari saling mengingatkan, “Sudah kholas belum hari ini?”
Namun, bukan hanya itu alasannya. Selama bertahun-tahun bersama ODOJ, saya merasakan sendiri bagaimana Al-Qur’an perlahan mengubah hidup saya.
Karena itu, saya tidak pernah benar-benar ingin meninggalkan ODOJ. Di sanalah saya belajar menjaga persahabatan dengan Al-Qur’an.
Semoga persahabatan itu terus Allah jaga hingga akhir hayat.
Teman Perjalanan
Sampai hari ini, setiap kali hendak berangkat kerja, ada satu hal yang hampir selalu saya pastikan lebih dahulu: juz hari itu sudah saya mulai.
Bukan karena takut ditagih admin ODOJ.
Tetapi karena rasanya ada yang kurang jika sehari saja saya tidak menyapa Al-Qur’an.
Kebiasaan itu bahkan ikut memengaruhi cara saya merencanakan banyak hal.
Setiap kali hendak mendaki gunung dan tahu beberapa hari ke depan tidak akan ada sinyal, saya akan “deposit” beberapa juz lebih dulu dan melaporkannya ke grup. Dengan begitu, selama perjalanan saya tidak memiliki tunggakan setoran.
Begitu pula sewaktu akan menjalani operasi caesar. Sebelum operasi, saya sengaja meng-kholas-kan tujuh juz. Saya membayangkan, bagaimana jika setelah dibius saya tidak sadar selama beberapa hari? Paling tidak, saya tidak meninggalkan “utang” bacaan.
Dulu saya mencari obat untuk lambung saya.
Ternyata Allah memberi lebih dari itu.
Dia menghadiahkan teman perjalanan.
Namanya…
Al-Qur’an.
Catatan:
-
ODOJ (One Day One Juz) adalah komunitas mengaji Al-Qur'an di WA Grup, dengan anggota 30 orang. Setiap harinya masing-masing anggota bertanggungjawab membaca/mendengarkan 1 Juz. -
Kisah tentang kenapa di unit tersebut harus berperilaku tertutup, saya tuliskan dalam esai Dunia Tenzinger. Selengkapnya di: https://anglurabisatya.com/?p=109.






