Anglurabisatya

Berjalan bersama sahabat mencari kebaikan.

Saat Semua Ruang Untuk Bercerita Tertutup

Ada masa dalam hidup, ketika saya merasa hampir kehilangan semua ruang untuk bercerita.

Saat itu, saya tidak sedang mencari jalan keluar.
Saya hanya ingin belajar istiqamah membaca Al-Qur’an, dan karena itulah saya bergabung dengan ODOJ. Belasan tahun kemudian, barulah saya menyadari bahwa Allah ternyata memberi hadiah yang sama sekali tidak pernah saya minta.

Hidup dalam Tekanan

Tahun 2009 menjadi awal kehidupan baru bagi saya. Saya diterima bekerja di sebuah lembaga antirasuah. Saya ditempatkan di sebuah unit yang bahkan belum benar-benar saya pahami pekerjaannya. Saya melamar di unit tersebut karena pengalaman kerja yang saya miliki memang dibutuhkan di sana.

Namun, setelah mulai bekerja, saya baru menyadari bahwa kode etik di unit itu berlawanan dengan kebiasaan hidup saya. Saya seorang ekstrover, sementara pekerjaan ini menuntut saya hidup layaknya seorang introver. Ditempat kerja sebelumnya, sepulang kerja saya masih bisa berkumpul dengan teman-teman jurnalis atau teman-teman aktivis. Kini, saya tidak lagi bebas nongkrong atau sekadar berbincang santai.

Pekerjaan itu menuntut saya menjauh dari dunia sosial, baik di dunia nyata maupun di dunia maya—Medsos. Bahkan tempat saya bekerja pun harus dirahasiakan. Hanya keluarga dekat dan beberapa sahabat yang boleh mengetahuinya. Sampai-sampai, tetangga saya sendiri tidak tahu saya bekerja di lembaga tersebut hingga belasan tahun kemudian.

Saat Putus Asa

Tiga tahun bekerja, gastritis—atau yang lebih dikenal masyarakat sebagai gangguan asam lambung—mulai menjadi teman yang kerap datang tanpa di undang. Hampir setiap bulan, ada hari, dimana saya harus diinfus karena mual dan muntah-muntah saat bekerja.

Saking langganannya penyakit tersebut datang, sampai-sampai saya terbiasa setelah muntah belasan kali, lalu diinfus ke rumah sakit terdekat, selanjutnya saya balik kerja lagi.
Hampir setiap tahun, hasil medical check-up saya selalu membawa catatan yang sama:

Gastritis.

Penyebabnya pun klasik, telat makan dan stres.

Lama-kelamaan, saya menerima diagnosis itu sebagai sesuatu yang biasa.
Yang membuat saya penasaran, mengapa teman-teman yang menghadapi tekanan pekerjaan yang sama, tidak mudah mengalami gastritis seperti saya?

Titik Balik

Rasa penasaran itu mendorong saya mengadakan sebuah sharing session bertema self-awareness untuk kami di satu unit itu. Dalam sesi tersebut, kami mengikuti tes temperamen untuk mengenali karakter masing-masing. Hasilnya cukup mengejutkan. Mayoritas teman-teman saya berkepribadian introver, sebagian kecil ambiver, dan hanya saya sendirian yang benar-benar ekstrover.

Barulah saya tersenyum tersadar, mengangguk-anggukan kepala:

“Pantas saja, ketika saya uring-uringan karena tekanan pekerjaan, mereka tampak baik-baik saja. Hahaha.”

Suatu hari, saya membeli buku Membaca Kilat karya Agus Setiawan. Waktu itu sedang launching di Radio Smart FM. Bonusnya sebuah seminar.
Saya datang dengan harapan bisa belajar membaca satu halaman dalam waktu satu detik sesuai promosinya.

Saat seminar berlangsung, saya sudah lupa sebagian besar materi yang disampaikan. Namun ada satu hal yang masih saya ingat. Pak Agus Setiawan menulis di papan tulis bahwa perempuan konon membutuhkan sekitar 50 ribu kata untuk diungkapkan setiap hari—dua kali lebih banyak daripada laki-laki. Beliau menjelaskan bahwa salah satu dampaknya, banyak perempuan merasa lega ketika memiliki ruang untuk bercerita.
Terlepas dari benar atau tidaknya angka tersebut secara ilmiah, kalimat itu terus terngiang di kepala saya.

“Jangan-jangan selama ini saya stres karena tidak punya ruang untuk mengeluarkan semua kata-kata itu.”

Ketika kebutuhan berkata-kata itu tersumbat, efeknya bukan hanya pikiran saya yang protes, tetapi juga tubuh saya, dengan memunculkan reaksi stres.
Lantas saya bertanya pada diri sendiri: Kalau saya butuh “berkata-kata”, memangnya mau kemana saya menyampaikannya?
Di kantor saya tak bisa banyak mengobrol.
Sepulang kerja tak bisa nongkrong.  

Media sosial pun dilarang.

Lalu… saya harus bercerita kepada siapa?

Resolusi yang Menemukan Jalannya

Sebenarnya sejak kuliah, saya sudah memiliki kebiasaan membuat resolusi tahunan. Pada awal tahun 2013 saya menuliskan sebuah keinginan sederhana.
“Ingin bisa membaca Al-Qur’an dan Tahajjud setiap hari”.
Saat itu, saya belum tahu bagaimana caranya agar bisa memulai dan istiqamah. Tapi seperti kata para motivator, “Yang penting tulis saja dulu, nanti juga ketemu jalannya.”

Pucuk dicinta ulampun tiba. Benar saja, jalan itupun terbuka.Rupanya diseberang sana, Beberapa pemuda sedang merintis komunitas One Day One Juz (ODOJ). Dan disini, saya sedang mencari wadah untuk bisa istiqomah mengaji setiap hari.

November 2013, mereka soft launching Komunitas ODOJ. Dua bulan setelah komunitas itu berdiri, tepatnya Januari 2014, saya bergabung di Grup ODOJ2307. Kata Mas Sabrang MDP, “Perjalanan Spiritual seseorang itu berbeda-beda dan sangat private antara dia dengan Tuhannya.” Semoga bertemunya saya dengan ODOJ Adalah salah satu perjalanan spiritual itu hehe.

Selusin Tahun Bersama ODOJ

Hari demi hari saya membaca satu juz.
Besoknya satu juz lagi.
Lusa begitu lagi dan seterusnya.
Membaca Al-quran 1 hari 1 juz telah menjadi kebiasaan. Sampai saya lupa, kapan kebiasaan itu berubah menjadi kebutuhan.
Mungkin orang lain tidak melihat perubahan apa pun pada diri saya.
Tetapi tubuh saya tahu.
Lambung saya tahu.

Sejenak Kembali pada ingatan oleh-oleh yang saya dapat dari seminar Membaca Kilat. Memang, saya tidak bisa langsung berhasil membaca 1 halaman dalam 1 detik. Tapi saat itu, saya pulang membawa jawaban atas penyakit yang sudah tiga tahun saya cari penyebabnya. Informasi bahwa, perempuan butuh mengeluarkan 50 ribu kata/hari.

Setelah bergabung dengan komunitas ODOJ, saya merasa, sebelum hari dimulai, saya sudah “mengeluarkan” ribuan kata itu.
Tapi bedanya, yang saya keluarkan bukan kata-kata saya sendiri.
Melainkan, bacaan ayat Al-Qur’an

Bonus yang Tak Pernah Saya Cari


Dulu, berdiri lama dalam antrean atau berdesakan di kereta terasa melelahkan. Kini justru sebaliknya. Waktu-waktu yang dulu terasa membosankan berubah menjadi kesempatan menyenangkan untuk mencicil juz hari itu. Bepergian sendirian pun tidak lagi terasa sepi. Bahkan tanpa internet sekalipun, saya tetap merasa memiliki teman perjalanan.

Saat cemas atau kebingungan datang, saya juga sering kembali kepada Al-Qur’an. Selain beristikharah, saya membacanya sambil memohon petunjuk kepada Allah. Tak jarang, dari ayat yang saya baca beserta maknanya, saya menemukan ketenangan, sudut pandang baru, atau jawaban yang sedang saya butuhkan.


Belakangan saya baru menyadari, hadiah terbesar itu ternyata bukan hanya gastritis yang perlahan tak lagi datang. Al-Qur’an juga mengubah waktu-waktu yang dulu terasa kosong menjadi saat-saat yang paling saya nantikan.

Karena di dalam kesunyian, saya tidak pernah benar-benar sendirian.

Ayat-Ayat yang Tak Lagi Asing

Manfaat lain yang baru saya rasakan beberapa tahun kemudian adalah ketika mengikuti Maiyahan. Mbah Nun (Emha Ainun Nadjib) hampir selalu mengaitkan berbagai persoalan kehidupan dengan ayat-ayat Al-Qur’an. Dulu, setiap kali beliau mengutip ayat, saya rajin mencatatnya. Namun, tidak lama kemudian catatan itu hanya menjadi catatan. Saya sering lupa, bahkan merasa ayat-ayat tersebut begitu asing.

Keadaannya mulai berubah setelah saya terbiasa membaca Al-Qur’an setiap hari, sesekali disertai membaca artinya. Perlahan, ayat-ayat yang dulu terasa asing menjadi semakin akrab. Ada kebahagiaan kecil ketika Mbah Nun mengutip sebuah ayat, lalu saya spontan teringat suratnya atau kisah yang melatarinya—seperti bertemu kembali dengan teman lama.

Kenduri Cinta

Mbah Nun juga sering mengingatkan agar anak-cucu Maiyah tidak berhenti pada membaca Al-Qur’an, tetapi juga mentadabburinya, sebagaimana isyarat Allah dalam Surah An-Nisa ayat 82 dan Surah Muhammad ayat 24: “Afalā yatadabbarūnal-Qur’ān…” Menurut beliau, menafsirkan Al-Qur’an memerlukan bekal ilmu yang mendalam, sedangkan mentadabburi dapat dimulai oleh siapa saja dengan niat baik dan hati yang terbuka.

 

Pak Syaiful dari Maiyah Padhang mbulan pernah menuliskan: Tadabbur adalah praktik yang menghubungkan pesan universal Al-Quran dengan kehidupan kita sehari-hari. Kita merenungkan makna ayat-ayat secara personal, menemukan relevansi pesan-pesannya, dan menerapkannya dalam konteks kehidupan sehari-hari.

Menjaga Persahabatan

Grup WA ODOJ yang berisi 30 orang, dibentuk per 28 Jan 2014

Seiring berjalannya waktu, satu per satu teman seperjalanan memilih berhenti dari ODOJ. Kini, anggota lama yang masih bertahan di grup kami tinggal saya dan Bu Eri, seorang dosen di salah satu kampus di Yogyakarta. Saya memahami bahwa setiap orang memiliki perjalanan spiritualnya masing-masing.

Lalu mengapa saya tetap bertahan?

Jawabannya sederhana: karena saya menyadari, saya bukan orang yang mudah istiqamah. Justru karena saya gampang malas, saya membutuhkan teman-teman yang setiap hari saling mengingatkan, “Sudah kholas belum hari ini?”
Namun, bukan hanya itu alasannya. Selama bertahun-tahun bersama ODOJ, saya merasakan sendiri bagaimana Al-Qur’an perlahan mengubah hidup saya.
Karena itu, saya tidak pernah benar-benar ingin meninggalkan ODOJ. Di sanalah saya belajar menjaga persahabatan dengan Al-Qur’an.
Semoga persahabatan itu terus Allah jaga hingga akhir hayat.

Teman Perjalanan

Sampai hari ini, setiap kali hendak berangkat kerja, ada satu hal yang hampir selalu saya pastikan lebih dahulu: juz hari itu sudah saya mulai.
Bukan karena takut ditagih admin ODOJ.

Tetapi karena rasanya ada yang kurang jika sehari saja saya tidak menyapa Al-Qur’an.
Kebiasaan itu bahkan ikut memengaruhi cara saya merencanakan banyak hal.
Setiap kali hendak mendaki gunung dan tahu beberapa hari ke depan tidak akan ada sinyal, saya akan “deposit” beberapa juz lebih dulu dan melaporkannya ke grup. Dengan begitu, selama perjalanan saya tidak memiliki tunggakan setoran.

Begitu pula sewaktu akan menjalani operasi caesar. Sebelum operasi, saya sengaja meng-kholas-kan tujuh juz. Saya membayangkan, bagaimana jika setelah dibius saya tidak sadar selama beberapa hari? Paling tidak, saya tidak meninggalkan “utang” bacaan.

Dulu saya mencari obat untuk lambung saya.
Ternyata Allah memberi lebih dari itu.
Dia menghadiahkan teman perjalanan.
Namanya…
Al-Qur’an.

Catatan: 
  • ODOJ (One Day One Juz) adalah komunitas mengaji Al-Qur'an di WA Grup, dengan anggota 30 orang. Setiap harinya masing-masing anggota bertanggungjawab membaca/mendengarkan 1 Juz.
  • Kisah tentang kenapa di unit tersebut harus berperilaku tertutup, saya tuliskan dalam esai Dunia Tenzinger. Selengkapnya di: https://anglurabisatya.com/?p=109.
 

Dunia Tenzinger

Tulisan Dunia Tenzinger, merupakan salah satu Judul yang ada dalam buku ini

“Tak pernah terpikir, seekor tikus di kamar kos yang sempit akan meninggalkan pelajaran yang saya ingat seumur hidup.”

Waktu menunjukan pukul 23:30 suara tikus dan gerak geriknya mulai terdengar di kamar kos dan membuyarkan konsentrasi saya. Entah darimana tikus itu masuk, karena posisi kamar kost tertutup. Atau mungkin dia masuk sejak pintu masih terbuka.. dan sudah lama bersembunyi didalam kamar? Ah entahlah, saya tidak tahu. Beberapa lembar kerja yang harus saya isi dan dikumpulkan saat test besok, masih saya pegang karena belum selesai saya jawab.

Merasa terganggu dengan suara dan gerak gerik tikus, Lembar kerja sementara saya simpan dan mencoba mencari tikus itu, mulai dari sumber suaranya. Suara itu terdengar dari belakang lemari. Lemari saya geser, ternyata kosong. Kemudian terlihat ia berlari entah dari arah mana, menyusup ke tempat sendal, langsung saya pindahkan tempat sendal, eh tidak ada dia disana.

Lalu tikus itu terlihat berlari lagi menyeberang dari bawah lemari, masuk ke kolong tempat tidur saya. Tempat tidur saya saat itu spring bed ukuran single. Saya geser tempat tidur, tidak ditemukan. Dan dengan susah payah saya membalik spring bed yang beratnya Naudzubillah, tapi belum ketemu juga. Tikus itu bergerak riang kesana kemari, lalu bersembunyi seperti main petak umpet dan seolah meledek saya. Begitu terus menerus.

 

Waktu sudah memasuki dini hari, tikus belum ketemu, badan lelah dan Ibu kos komplen, katanya “Berisik….” Rupanya suara lemari dan tempat tidur di geser-geser, terdengar keras di atap kamar ibu kost dan mengganggu istirahat beliau. Adduh! harus bagaimana mengatasi kondisi ini? Oke, Mencoba solusi lain: Pintu kamar saya buka lagi, berusaha cuek dengan gangguan itu, seolah tidak terjadi apa-apa dan melanjutkan mengisi 3 poin untuk melengkapi 5 alasan ingin bekerja di KPK. Ternyata percuma, upaya itu sia-sia, sangat sulit fokus dan konsentrasi. Akhirnya saya kembali melanjutkan pencarian.

Anehnya, Padahal hanya kecil ukuran kamar itu, tapi sudah 2 jam lebih, belum ketemu juga tikus itu. sampai akhirnya, saya seperti menemukan AHA Moment, “Aha! jangan-jangan Tikus ini, utusan Tuhan untuk menjawab 3 alasan terakhir”.

Masuk Melalui Seleksi IM4

Tahun 2009 adalah awal saya mendaftar di KPK, saat itu nama seleksinya Indonesia Memanggil Empat atau disingkat IM4. Sebelum menjalani rangkaian test, ada beberapa pertanyaan yang harus kami isi dirumah, dan dikumpulkan saat tes besoknya.

Malam itu, saya terjaga hingga larut, mencari jawaban yang tak kunjung ditemukan. Di sebuah kamar kost sempit di bilangan Jakarta Timur. Warga sekitar mengenalnya dengan sebutan “Kosan Pak Daud”. Kamar saya di lantai atas dan berlantaikan kayu. Lantai dasar adalah rumah Bapak dan ibu Daud. Kosan pak Daud dan beberapa rumah sekitarnya sering mendapat banjir kiriman dari Kali Ciliwung. Sekarang Kosan Pak Daud tidak ada, tergusur pelebaran bantaran kali.

Poin pertanyaan yang tak kunjung berhasil saya rampungkan, sejak sore tadi adalah “Sebutkan 5 alasan Anda, ingin bekerja di KPK”. Bagi saya, itu pertanyaan yang sangat sulit dijawab, karena saya hanya anak kampung yang tidak punya keluarga pejabat. Belum begitu kenal program kerja KPK. Mendaftar di KPK pun karena diajak teman kosan.

Keseharian saya tidak jauh dari target penjualan, buku-buku yang saya pelajaripun hanya buku-buku marketing. Sebab, pekerjaan saya saat itu adalah sales. Satu-satunya sumber berita yang saya konsumsi hanya Majalah Tempo yang biasa saya beli setiap Hari Senin.

Waktu menunjukan pukul 23:00, Dua pertanyaan pertama dapat terjawab sejak sore tadi. Layaknya anak kampung yang merantau ke kota, yang pertama ingin dicapai biasanya: (1.) Ingin membahagiakan orang tua dengan bekerja di lembaga ternama. 

Alasan kedua, agak lebih spesifik dengan idealisme diri: (2.) Ingin bekerja yang majikannya rakyat. Yang nomor 2 ini, sudah ada dikepala saya sejak kuliah dulu. Salah satu impian saya semasa kuliah adalah “Ingin bekerja, yang majikannya rakyat. Saat itu yang terpikir hanya, menjadi jurnalis Tempo”.

Bagi saya dan teman-teman pers mahasiswa dulu, Tempo adalah media yang dedikasinya untuk rakyat, mereka tidak takut kehilangan pengiklan maupun investor. Tapi memang takdir membawa saya ke tempat-tempat kerja lain, diluar Tempo. Saat melihat ada kemiripan antara KPK dan Tempo—mengembalikan uang negara dan membela hak rakyat, saya optimis menuliskan alasan itu.

Hampir tiga jam berkutat mencari tikus, saya putuskan untuk menghentikan sementara, karena menemukan “Aha Moment” untuk menjawab 3 alasan yang saya cari. Teringat Kata Bang Iwan Fals dalam lagunya, tikus itu icon untuk koruptor.

Dan, Sisa Ketiga Alasan Tersebut Adalah:

 (3). Ingin bisa lebih cerdas dari koruptor—Inspirasinya, Mecari tikus di kamar kost yang sempit ko tidak ketemu-ketemu, padahal suaranya ada.

(4) Ingin bisa bergerak lebih cepat dari koruptor—Inspirasinya, mengejar tikus yang bergerak riang diruangan yang terbatas, ko tidak dapat-dapat, padahal dia terlihat.

(5) Ingin bisa membuat Rakyat Indonesia hidupnya lebih tenang dan nyaman tanpa gangguan koruptor—Inspirasinya dari Ibu kost yang sampai komplen karena saya berisik mencari tikus.

Done! Tiga pertanyaan itu selesai dalam waktu kurang dari 5 menit, berkat tikus. Dan saya berterima kasih kepada tikus itu, yang diduga masih sembunyi di kamar. Saya sampaikan terimakasih saya, dengan volume suara yang memungkinkan bisa didengar olehnya, “Terimakasih ya tikus… sudah memberi inspirasi”. Ajaibnya, Tak lama kemudian tikus itu keluar dari bawah spring bed, rupanya di bagian bawah spring bed tersebut, ada sobekan kecil. Badan tikus yang lentur, dapat masuk dan bersembunyi disana. Dan uniknya, Sebelum keluar melalui pintu kamar kos yang terbuka, tikus itu menoleh, seolah berkata “Iya sama-sama”.

Saya pernah baca terjemahan Albaqoroh 216 yang bunyinya begini,

“..Boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”

 Guru Maiyah saya, Mbah Nun (Emha Ainun Najib) menguraikannya kurang lebih begini,

“Terkadang Tuhan meletakan rahmat-Nya di tempat yang sama sekali tidak menarik bagi manusia. Terkadang Tuhan menyembunyikan anugerah-Nya dibalik momentum yang tak terduga oleh siapapun. Terkadang Tuhan melakukan penyelamatan, memberikan rejeki, serta menjanjikan rahasia-rahasia, dibelakang suatu kejadian yang seakan-akan bernama musibah atau kecelakaan”.

Terimakasih Tuhan.. engkau mengirimkan mahluk kecil bernama tikus malam itu, tidak lain untuk membuat saya berpikir dan mengambil pelajaran.

Kerja kami diawasi Tuhan, hasil kerja kami ditunggu rakyat

Semalaman bersama tikus, membuat saya sangat semangat mengikuti rangkaian test. Bahkan saat datang untuk test di PPM Manajemen Tugu Tani, saya ingat, saya belum mandi, karena bangun kesiangan dan tidak ingin terlambat. Untung hari itu hanya ada psikotest dan Test Potensi Akademik, sehingga rasanya tidak ada yang sampai terganggu dengan saya yang belum mandi dan berpakaian sketemunya hehe.

Tahapan seleksi IM4, yang kurang lebih 2 bulan dengan 5x tahapan, telah meluluskan 91 orang dari total hampir 40ribu pendaftar. Kebanyakan dari kami tidak tahu persis aktivitas yang dikerjakan dari posisi yang kami lamar, sebab saat itu, hampir semua dari kita niatnya berjuang dengan apa yang kita bisa. Sehingga hanya memilih posisi yang speknya sesuai dengan diri kami.

Saat offering letter di auditorium C1 (Gedung KPK lama), Kepala Biro SDM— Ibu Tina T Kemala Intan, yang saat tulisan ini ditulis, menjabat Direktur SDM dan Hukum di PT. Semen Indonesia TBK, menyampaikan 2 hal yang sampai sekarang tetap melakat. Pertama:

“Korupsi itu extra ordinary crime, sehingga hanya bisa dihadapi oleh extra ordinary people. Extra ordinary people adalah, orang biasa yang bekerja dengan luar biasa, dan saya berharap, anda semua adalah extra ordinary people itu”.

Kedua: Bu Tina menunjukan contoh slip gajinya KPK yang unik. Sebelum melihat isinya, kalimat pertama yang terlihat adalah “Penghasilanku berasal dari rakyat”. Tujuannya untuk selalu mengingatkan kepada kita, bahwa uang gajian kita itu dari rakyat, bukan dari atasan kita. Dalam hati, saya langsung bersyukur

“Ya Allah.. Terimakasih… Engkau mengabulkan doa saya dengan sangat presisi—bekerja ditempat yang majikannya rakyat—dan itu sampai tertulis di slip gaji, Masyaallah…”.

Slip Gaji KPK Saat masih manual, tertulis “PENGHASILANKU BERASAL DARI RAKYAT”

Berbekal pesan dari Bu Tina.. kami bekerja sangat bersungguh-sungguh, berupaya untuk selalu bisa melewati batas diri kami, berusaha untuk menjadi extra ordinary people dalam bekerja. Kalau diminta target 10, berilah lebih, misal 12 dst. Dan berkat tulisan Penghasilanku berasal dari rakyat”, setiap bekerja, ada atau tidak ada atasan, tidak akan mengurangi sedikitpun kinerja kami dalam menyelesaikan tugas, karena kami merasa Kerja kami diawasi Tuhan dan hasil kerja kami ditunggu rakyat.

Kebosanan dan kekhawatiran tertular jadi koruptor

Saya ditempatkan di unit yang kegiatannya membersamai kehidupan Target Operasi (TO)-nya KPK. Selama 3 Tahun berjalan, tidak dipungkiri, kebosanan dan kekhawatiran mulai melanda saya dan teman-teman di unit itu. Untuk saya sendiri, alasan saya bosan diantaranya:

Pertama, sebelum di KPK, saya pribadi yang ekstrovert, sering kumpul bareng teman-teman, aktif di kegiatan sosial. Saat bergabung di KPK, khusus kami yang masuk di unit itu, harus putus jejaring. Tiarap dari media sosial. Bahkan, kami kerja di KPK pun harus dirahasiakan ke keluarga besar, teman-teman maupun tetangga. Kami tidak bisa menceritakan apa yang sedang kami kerjakan ke siapa pun, kepada orang tua dan pasangan sekali pun.

Kedua, bekerja di unit itu, membuat kami terpaksa harus berbohong ke orang lain, tentang dimana kami bekerja dan apa yang kami kerjakan. Hal itu menjadi beban tersendiri bagi kami yang selalu diajari jujur sejak dini.

Ketiga, Kami yang setiap hari mengikuti kehidupan para TO dan keluarganya, yang sebagian besar adalah koruptor, sangat kawatir akan tertular menjadi seperti mereka. Karena informasi tentang mereka adalah makanan otak kami sehari-hari. Dan pernah saya dengar di salah satu seminar motivasi

“Kalau kita sering mendengar, membaca kata/ kalimat yang sama berulang-ulang, maka akan masuk ke alam bawah sadar dan menjadi kebiasaan”.

Tahun 2012, di Tahun ke-3 saya bekerja, stres saya memuncak. Dalam sebulan, asam lambung saya beberapa kali kumat, yang solusi sembuhnya hanya dengan diinfus. Kerap kali, saat sedang bekerja atau pulang kerja, saya terpaksa mampir dulu ke rumah sakit untuk diinfus karena muntah- muntah dan pusing yang tidak terkendali.

Beberapa solusi penyembuhan yang ditempuh, tak ada yang berhasil, karena akarnya yang belum ditemukan. Di tengah kepasrahan dan keputusasaan, Allah mengingatkan saya pada kejadian tikus di kosan pak Daud dan 3 alasan saya masuk KPK. “Oh.. rupanya unit ini adalah jawaban atas alasan saya masuk KPK, tempat itu adalah hadiah dari Tuhan untuk saya”

Mencintai yang kita kerjakan adalah kunci bahagia

Setelah menyadari bahwa kerja di unit itu adalah jawaban Tuhan atas doa saya. Saya segera introspeksi, mengudar masalah dan menemukan solusi (untuk bagian ini, ada di Esai Saat Semua Ruang Untuk Bercerita Tertutup. selengkapnya di: https://anglurabisatya.com/?p=343&preview=true). Agar dapat bertahan dengan bahagia, saya harus menemukan alasan untuk mencintai pekerjaan saya. Alhamdulillah Satu persatu kebosanan saya tergantikan dengan semangat. Kekawatiran sayapun tergantikan dengan Optimisme.

Rupanya, bekerja di unit ini adalah jawaban atas alasan saya yang ke (3): Ingin bisa lebih cerdas dari koruptor. Setelah disadari, di unit itulah saya bisa mempelajari isi kepala koruptor. Apa yang mereka pikirkan, apa yang mereka rencanakan. Apa yang mereka tuju dalam kehidupan. Karena koruptor tidak akan menceritakan strategi-strateginya di buku, apalagi di media. Mereka hanya menceritakan itu pada orang yang benar-benar mereka percaya, partner in crime-nya, pihak perantara, dan biasanya kepada selingkuhannya. Bersyukur, saya dan teman-teman berkesempatan untuk menyimak itu.

Bekerja di tempat ini juga, ternyata, jawaban atas alasan saya yang ke (4): Ingin bergerak lebih cepat daripada koruptor. Serunya kerja di unit itu, kami terlatih untuk membaca pola koruptor. Kalau mau bergerak lebih cepat dari koruptor, hiduplah di dunia mereka. Palajari kebiasaan mereka. Waspadai kapan mereka merencanakan transaksi, kapan mereka akan bertemu para pihak, jam berapa, dimana dan dengan cara apa transaksi berlangsung.

Dan jujur, kami berkejaran dengan mereka. Saat OTT terjadi, umumnya karena KPK lebih dulu mendapatkan informasi rencana atau dapat membaca pola koruptor, sebelum transaksi. Tapi tidak jarang juga, Koruptor lah yang lebih cepat merubah rencana dan mengganti strategi, sebab koruptor adalah maling yang paling pintar. Saya yakin, mereka juga tak henti-henti mencari tahu dan mempelajari pola KPK, agar bisa lolos dari jeratan OTT. Dan saat kondisi itu terjadi, kami hanya bisa bersabar dan bangkit berdiri lanjutkan semangat lagi.

Alasan saya yang kelima pun terjawab dengan bekerja di unit ini: (5.) Ingin bisa membuat rakyat Indonesia hidupnya lebih tenang dan nyaman tanpa gangguan koruptor. OTT-OTT yang KPK berhasil lakukan, membuat rakyat indonesia bahagia. Ini sering saya temukan ketika baca komentar- komentar netizen di hampir semua berita online, pasca OTT. Banyak warga yang berasal dari daerah tersebut, berterima kasih pada KPK, karena telah menangkap kepala daerahnya yang korup. Tak jarang juga di daerah tersebut diadakan syukuran seperti gundul kepala bersama-sama, atau bikin tumpeng, sebagai bentuk kesyukuran karena terbebas dari jerat korupsi kepala daerah dan dinastinya.

Pantas saja kebijakan di unit itu, tidak memperbolehkan kami aktif di media sosial, sebab efeknya akan membuat kita tidak fokus, juga dikHawatirkan, secara tidak sadar, dapat membocorkan rahasia penyelidikan.

Disebut Tenzinger

Kebosanan saya yang pertama, terjawab setelah 9 tahun saya dipindahkan dari unit itu dan ditempatkan di unit lain yang masih sejalur. Bedanya disini, sosial media menjadi tools. Dan di unit baru ini, alam bawah sadar saya langsung menyeleksi mana yang boleh mana yang tidak, dari aktifitas bersosial media. Dan efeknya, saya dapat lebih bijak dalam menggunakan sosial media sebagai alat. Rupanya, 9 tahun disana adalah Puasa yang dipaksakan, untuk menyiapkan diri saya, agar lebih bijak menggunakan alat ini ketika di unit baru. Terimakasih Tuhan.

Rasa bersalah saya karena harus berbohong bekerja dimana, Terjawab oleh Pak Busyro Muqoddas—Mantan Pimpinan KPK. Kata Pak Busyro

“Kalau berbohong karena tuntutan tugas, tidak apa-apa. Wali juga tidak ada yang memberi tahu kalau dirinya wali”

Kekhawatiran saya akan tertular kebiasaan koruptor, terjawab oleh analoginya Mas Sabrang Mowo Damar Panuluh—Noe Letto, scientist pernah berkata

“Untuk bisa menyadari cahaya, kita membutuhkan gelap” . Analogi ini sangat cocok ketika diterapkan pada kalimat: “Untuk bisa anti korupsi, kita butuh paham kebiasaan hidup koruptor”

Disamping beberapa pesan penting dari orang-orang hebat diatas, ada juga Pesan Fundamental yang dipesankan khusus untuk kami di Direktorat itu. Pertama dari Direktur kami, beliau sering mengingatkan kami kurang lebih begini:

“ Kita ini jantungnya KPK, Jantung tidak boleh terlihat, tapi jantung juga tidak boleh berhenti berdetak.”

Ini sebuah kiasan untuk kami-kami yang bekerja di beberapa unit di direktorat itu. Saat bekerja, kami tidak terlihat, tapi kami harus tetap bekerja, sebab jika kami malas atau berhenti bekerja, pemberantasan korupsi—wabil khusus OTT, akan terhambat.

Pesan Fundamental lainnya adalah dari Pak Bambang Widjojanto (Pak BW), mantan pimpinan KPK, yang sering mengibaratkan kami semua seperti Tenzing Norgay dan Pak BW menyebut kami sebagai “Tenzinger”.

Tenzing Norgay adalah seorang guide yang memandu Edmun Hillary untuk menjadi orang pertama yang mencapai puncak Everest. Sebagai guide, Tenzing sangat bisa untuk menjadi orang pertama yang menginjakan kaki di puncak Everest, tapi Tenzing mempersilakan Edmund. Karena menjadi penakluk pertama Everest, adalah impian Edmund dan bukan impian Tenzing.

Posisi kami di KPK adalah supporter OTT. Jika OTT berhasil, Penyidik dan pimpinan lah yang akan dicatat prestasinya, sebab kami adalah supporter. Kebahagiaan kami, ketika dapat men-support maksimal penyelidik dan penyidik untuk menggoalkan OTT.

Di KPK apa lagi yang kamu cari?

Mungkin, ketika dihadapkan pada pertanyaan diatas, saya akan katakan, pencarian saya telah selesai. Selama 12,5 tahun saya di KPK adalah masa belajar saya disana. Ketika SK 652 (Surat Keputusan diberhentikan dengan hormat) saya terima, tak ada rasa marah, kecewa, maupun sakit hati, karena niat saya bekerja di KPK tidak lain, hanya untuk belajar. Tak ada istilah gagal dalam belajar. Dan SK 652 saya anggap sebagai sebuah rapor akhir atas perjalanan menjaga integritas dan kode etik yang saya pegang teguh selama di KPK.

Karena, hanya dengan 12,5 di KPK-lah, saya dapat kesempatan belajar ilmu-ilmu otentik langsung dari ahlinya. Dan sejak Tahun ke 3, sampai terakhir dipecat 30 september, saya sangat mencintai pekerjaan saya. Saya bahagia bisa mengenal para koruptor tersebut secara lebih dekat, tanpa mereka menganal saya. Bahkan, idola sayapun kebanyakan anti-mainstream. Idola saya diataranya, beberapa TO nya KPK yang mereka betul-betul keren dan publik belum melihat kekerenan itu hehe.

« Older posts

© 2026 Anglurabisatya