Berjalan bersama sahabat mencari kebaikan.

Category: opsec (Page 3 of 4)

Cacat Logika: Argument From Ignorance. Kasus Rumah Berhantu.

Argument From Ignorance. Rumah berhantu.

Argument From Ignorance. Rumah berhantu. Credit: DeepAI.org

Argument from ignorance (dalam bahasa Indonesia yaitu “argumen dari ketidaktahuan”) adalah pernyataan bahwa suatu klaim benar atau salah karena kurangnya bukti yang menyatakan sebaliknya. Penutur beranggapan bahwa pendiriannya benar karena belum atau tidak dapat dibuktikan salahnya, atau pendirian lawannya salah karena belum atau tidak dapat dibuktikan kebenarannya.

Dalam alur pemikiran manusia yang rumit, argumen dari ketidaktahuan muncul sebagai sebuah benang merah yang halus namun kuat, mempengaruhi kehidupan kita sehari-hari dengan cara yang mungkin tidak selalu kita sadari. Artikel ini bertujuan untuk mengungkap kompleksitas dari kekeliruan logika ini, menyoroti hubungan, mengeksplorasi konsekuensi dari cacat logika bernama ‘argumen dari ketidaktahuan’.

Dari hal yang biasa hingga yang mendalam, kehidupan kita sehari-hari penuh dengan contoh-contoh di mana argumen dari ketidaktahuan menyusup secara halus. Jika tidak hati-hati maka kita dapat menjadi manusia yang seringkali membangun skenario dimana asumsi, yang lahir dari kurangnya bukti nyata, membentuk persepsi kita dan mempengaruhi pengambilan keputusan.

Contoh:

Takhayul dan Cerita Rakyat.
Takhayul sering kali berakar pada argumen ketidaktahuan. Entah itu menghindari kucing berbulu hitam, takut keluar malam pada hari Jumat tanggal 13, pakai baju berwarna hijau di Pantai Selatan dan lainnya. Keyakinan ini sering kali didasarkan pada cerita rakyat yang beredar lama. Namun karena tidak adanya bukti dan bukan dari hasil investigasi rasional, maka mampu dikategorikan sebagai bagian dari ‘argumen dari ketidaktahuan’.

Continue reading

Cacat Logika: Slippery Slope. Contoh Serangan dan Cara Bertahan.

Slippery Slopes Arguments Art. Credit: deepAI.org

Slippery Slopes Arguments Art. Credit: deepAI.org

Slippery Slope adalah kekeliruan logika yang terjadi ketika sebuah argumen menegaskan bahwa peristiwa tertentu pasti akan mengarah pada rangkaian peristiwa terkait, biasanya dengan konsekuensi negatif.

Argumen Slippery Slope (Terjemahan ugal-ugalan Bahasa Indonesianya adalah ‘lereng licin’) menyatakan bahwa jika kita membiarkan suatu peristiwa terjadi, maka hal tersebut akan memicu serangkaian peristiwa yang akan membawa pada hasil yang tidak diinginkan, seringkali tanpa bukti yang cukup untuk mendukung rantai sebab akibat tersebut.

Mengidentifikasi Slippery Slope cukup sederhana, yaitu ketika sebuah argumen yang menyatakan bahwa tindakan atau keputusan tertentu akan menimbulkan serangkaian konsekuensi negatif. Tapi tanpa menyertai bukti yang cukup.

Berikut adalah contoh argumen Slippery Slope :

  • LGBTQ+: “Jika kita toleran terhadap kaum LGBT maka anak-anak kita akan menjadi homo.”
  • Sensor: “Jika kami tidak melarang acara kontroversial ini, warga sekitar akan menjadi kafir.”
  • Pengawasan: “Membiarkan lembaga pemerintah mengumpulkan metadata untuk tujuan keamanan nasional pasti akan mengarah pada pengawasan massal terhadap warga yang tidak bersalah.”
  • Kode Pakaian Sekolah: “Jika kita memperbolehkan siswa mengenakan pakaian bebas, hal ini akan menyebabkan penurunan disiplin, dan siswa akan segera menghadiri kelas dengan pakaian yang tidak pantas.”

Menanggapi argumen Slippery Slope melibatkan tantangan terhadap asumsi bahwa satu peristiwa pasti akan membawa serangkaian hasil negatif.

Ingat, jika ingin menantang cacat logika Slippery Slope yang akan Anda tantang adalah asumsi.

Berikut beberapa cara untuk merespons:

Continue reading

« Older posts Newer posts »

© 2025 Anglurabisatya